Minggu, 23 Oktober 2011

Kajian Ilmiyah Kitab Ustushalasah

0 komentar
Kumpulan Kajian Ilmiyah Kitab Ustushalasah
 
Tafadhal antum Unduh atau dengerin disini :
01. Muqaddimah & Faidah Basmallaah | Unduh atau Dengerin :


02. Makna ALLAAH, Ar Rahmaan & Ar Rahiim| Unduh atau Dengerin :


03. Makna Ta’allum dan Kwajiban Menuntut Ilmu | Unduh atau Dengerin :


04. Kwajiban Dakwah dan Sabar Atasnya | Unduh atau Dengerin :


05. Kwajiban Ibadah dan Ittiba’| Unduh atau Dengerin :


06. Larangan Syirik dan Ber-Wala’ kepada Mereka| Unduh atau Dengerin :


07. Lanjutan Ber-Wala’ kepada Pelaku Syirik | Unduh atau Dengerin :


08. Makna dan Pembagian Tauhid | Unduh atau Dengerin :


09. Makna Syirik dan Merealisasikan Tauhid | Unduh atau Dengerin :


10. Makna Rabb | Unduh atau Dengerin :


11. Mengenal ALLAAH Azza wa Ta’ala| Unduh atau Dengerin :


12 Hanya Rabb yang Ber-Hak Di-Ibadahi| Unduh atau Dengerin :


13. Macam macam Ibadah (1)| Unduh atau Dengerin :


14. Macam macam Ibadah (2) | Unduh atau Dengerin :


15. Macam macam Ibadah (3) | Unduh atau Dengerin :


16. Macam macam Ibadah (4) | Unduh atau Dengerin :


17. Mengenal Agama Islam (1) | Unduh atau Dengerin :


18. Mengenal Agama Islam (2) | Unduh atau Dengerin :


19. Rukun Islam Pertama Makna Syahadat (1) | Unduh atau Dengerin :


20. Rukun Islam Pertama Makna Laa Ilaha Ilallaah (2) | Unduh atau Dengerin :


21. Rukun Islam Pertama Syarat Laa Ilaha Ilallaah (3) | Unduh atau Dengerin :


22. Rukun Islam Pertama Muqaddimah & Dalil Muhammad Rasulullaah (4) 
| Unduh atau Dengerin :


23. Makna Syahadat Muhammad Rasulullaah & Konsekwensinya (5) | Unduh 
atau Dengerin :


24. Rukun Islam ke-2 ke-3 ke-4 ke-4 ke-5 | Unduh atau Dengerin :


25. Rukun Iman Pertama (1) | Unduh atau Dengerin :


26. Rukun Iman Pertama (2) | Unduh atau Dengerin :


27. Rukun Iman Kedua | Unduh atau Dengerin :


28. Rukun Iman Ketiga | Unduh atau Dengerin :


29. Rukun Iman Keempat | Unduh atau Dengerin :


30. Rukun Iman Kelima (1) Sangkakala | Unduh atau Dengerin :


31. Rukun Iman Kelima (2) Hisab & Mizan | Unduh atau Dengerin :


32. Rukun Iman Kelima (3) Surga & Neraka | Unduh atau Dengerin :


33. Rukun Iman Kelima (4) Nikmat & Azab Kubur | Unduh atau Dengerin :


34. Rukun Iman Keenam (1) 4 Tingkatan Iman kpd Taqdir | Unduh atau Dengerin :


35. Rukun Iman Keenam (2) Syubhat Pelaku Maksiyat -a- | Unduh atau Dengerin :


36. Rukun Iman Keenam (3) Syubhat Pelaku Maksiyat -b- | Unduh atau Dengerin :


37. Rukun Iman Keenam (4) Syubhat Jabriyah & Qadariyah | Unduh 
atau Dengerin :


38. AL IHSAN Tingkat Agama Tertinggi | Unduh atau Dengerin :


39. Mengenal Nasab Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam | Unduh atau Dengerin :


40. Awal Kenabian dan Kerasulan | Unduh atau Dengerin :



Link terkait :
USHUULUS SITTAH
KITAB TAUHID CD 1
KITAB TAUHID CD 2

Semoga Kajian ini bermanfaat, Barakalaallhufiikum

Sabtu, 08 Oktober 2011

Tentang Dunia IT

0 komentar

Belajar Tentang Dunia IT


           Dunia Teknologi Informasi (IT) khususnya komputer merupakan teknologi yang sudah tidak asing lagi oleh sebagian besar masyarakat dunia. komputer seakan telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dalam aktivitas sehari-hari. Di perkantoran, sekolah, perguruan tinggi dan sebagainya, komputer menjadi salah satu bagian penting untuk mempermudah kelancaran pekerjaan, tugas, pelayanan dan penyediaan informasi, dan lainnya.

Komputer kini semakin mudah dipahami dan digunakan oleh sebagian orang. Kemampuan menggunakan komputer tidak hanya sebatas mengoperasikan sebuah software seperti Sistem Operasi berbasis Windows, Linux, MacOS, dll., aplikasi perkantoran (MS. Office, OpenOffice), Desain Grafis (Corel, Photoshop, dll.), sampai pada dunia pemrograman (Visual Basic, Turbo Pascal, C++, dll.), namun juga banyak yang mampu mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi terhadap hardwarenya, seperti mainboard dan harddisk yang seringkali mengalami berbagai trouble saat dijalankan.

Hanya saja, bagi sebagian yang lain, hal tersebut masih dipandang asing. Banyak yang masih sebatas memahami aplikasi seperti MS. Office, dan umumnya yang sering digunakan adalah MS. Word. Mereka kurang begitu paham bagaimana cara mengoperasikan berbagai fasilitas yang disediakan oleh Windows selaku induk dari program komputer yang sedang dijalankan. Alasan yang umum adalah, hanya MS. Word yang (mungkin) lebih sering mereka gunakan dan butuhkan, karena memang program itulah yang seringkali dipakai untuk membuat sebuah dokumen seperti surat-menyurat, tugas kuliah atau kantor, menyusun sebuah karya tulis seperti makalah, paper, skripsi, dsb. Sementara beberapa program lain seperti MS. Excel, Powerpoint, Access, jarang atau bahkan tidak pernah digunakan. Sebagian lain telah mampu mengoperasikan program untuk mengolah image seperti CorelDraw atau Adobe Photoshop. Program ini umumnya digunakan untuk dunia desain grafis seperti mendesain poster, banner, mengolah gambar, membuat animasi, dsb.

Nah, buat rekan-rekan netter semua yang sama-sama ingin belajar tentang komputer dan dunia IT pada umumnya, disini merupakan ajang untuk saling bertukar ilmu, pengalaman, informasi dan sebagainya yang mendukung tema pokok yang akan di publish dalam blog ini. Harapan besar dari pembuatan blog beserta isinya ini dapat menambah ilmu, mengasah skill, dan bahkan mengembangkan sektor pendidikan berbasis IT. Dan tentunya, semoga bermanfaat bagi para pencinta IT dan netter semua.

Manfaat IT menurut Syari'i

0 komentar
Manfaat Teknologi dari Sudut pandang Islam


             Pengembangan teknologi memerlukan usaha secara sungguh­ sungguh, baik dalam bentuk penemuan sains sebagai basisnya, maupun penerapan dan pengembangan sains tersebut dalam bentuk teknologi. Usaha pengembangan teknologi tersebut dilakukan karena diyakini memiliki manfaat yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Di antara manfaat‑manfaat teknologi tersebut adalah :

a.  Memperoleh Kemudahan

Kemampuan fisik manusia untuk meraih berbagai kebutuhan hidup sangat terbatas. Pandangan mata, pendengaran telinga manusia terbatas, begitu pula kekuatan dan keterampilan tangan dan kakinya. Kemampuan fisik manusia itu tidak sebanding dengan kebutuhan yang diinginkan. Tetapi manusia sebagai khalifah Allah diberikan kemampuan akal‑pikiran untuk memanfaatkannya menemukan cara‑cara yang tepat dan efektif guna meraih kebutuhan hidup yang tidak mungkin dicapai melalui kemampuan fisik semata. Akal‑pikiran manusia mampu mendayagunakan segala yang Allah ciptakan di bumi ini. Kemampuan itu memang telah ditentukan oleh Allah Swt sebagaimana Allah nyatakan dalam firman‑Nya

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ (الجاثية : 13)

Artinya:      “Dan  Dia  menundukkan  untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir (QS. Al-Jatsiyah (45):13).

Menurut Quraish Shihah dalam Wawasan Al-Qur’an, kata sakhara dalam ayat tersebut arti harfiahnya menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya dengan segala, manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya di bawah manusia. Karen aitu tidak wajar apabila hal itu justru terbalik, artinya tidak wajar sendiri telah ditundukkan untuk manusia. Kepasrahan atau ketundukan manusia kepada sesuatu yang lebih rendah, yang ditundukkan kepada manusia adalah suatu sikap yang tidak wajar, yang bertentangan dengan maksud Allah, karena manusia sebagai khalifah-Nya memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan segala makhluk yang Allah ciptaan.

Memperoleh kemudahan dalam hidup dengan mengembangkan potensi diri dan dengan memanfaatkan segala yang Allah tundukkan bagi manusia di alam ini sejalan dengan kehendak Allah. Allah menghendaki manusia memperoleh kemudahan, dan tidak menghendaki menghadapi kesusahan hidup. Hal itu dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

… يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ … (البقرة : 185)

Artinya:      “Allah menghendaki kemudahan bagimu,  dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah (2) :185).


Allah menyatakan, bahwa memang Allah sengaja memberikan berbagai kemudahan kepada manusia agar manusia hidup dengan mudah.

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى. (الأعلى :

Artinya:      “Dan Kami memberimu kemudahan agar kamu memperoleh kemudahan”. (QS. al‑A’la (87) : 8).

b. Mengenal dan Mengagungkan Allah.

Apabila manusia mampu menghayati akan makna sains dan teknologi yang dikembangkannya, bahwa sernua itu bukan semata‑mata karena faktor diri pribadi manusia, tetapi ada faktor lain di luar dirinya, maka manusia akan memperoleh jalan untuk mengenal sesuatu yang lain di luar dirinya itu, yaitu Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Bijaksana, yaitu Allah SWT. Kesempurnaan alam dengan struktur dan sistemnya tidak bisa dibayangkan akan terbentuk dengan sempurna apabila tidak ada kesengajaan pihak lain, yaitu Yang Maka Kuasa dan Maha Sempurna. Semakin luas dan dalam pengetahuan manusia akan rahasia alam ini, maka semakin dekat manusia untuk mengenal Pencipta alam ini, yaitu Allah, Sang Khalik. Ketika pertama manusia mengembangkan teknologi bangunan, manusia telah diberikan contoh langit yang tinggi, yang luas dan kokoh, yang tidak takut akan runtuh. Begitu pula ketika manusia mengembangkan teknologi pesawat udara, Allah telah memberikan contoh bagaimana burung bisa terbang di angkasa dengan stabil, mampu mempertahankan keseimbangan tanpa takut jatuh, dan lain sebagainya. Karena itu ketika menerangkan berbagai struktur di alam ini, Allah menyatakan bahwa semua itu menjadi pelajaran bagi manusia untuk lebih mengenal dan mengangungkan Allah penciptanya. Hal itu dapat kita pahami dari berbagai ayat Al-Qur’an, diantaranya:

أَفَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17)

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18)

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19)

وَإِلَى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) سورة الغاشية

Artinya:      (17)    Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?

(18)        Dan langit, bagaimana dia ditinggikan?

(19)        Dan gunung-gunung, bagaimana dia ditegakkan?

(20)        Dan bumi, bagaimana dia dihamparkan?

(21)        Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberikan peringatan. (QS. Al-Ghasiyah (88): 17-21).

Dalam firman Allah menyatakan:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. (ال عمران : 190)

Artinya:      “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda‑tanda  bagi orang yang berakal “. (QS. Ali Imran (3) : 190).

Teknologi, dan juga sains hanyalah sarana untuk lebih meningkatkan pengenalan manusia kepada Allah Penciptanya. Kebesaran Allah akan lebih jelas bagi orang yang berpengetahuan dibandingkan dengan orang yang kurang pengetahuannya. Karena itu Allah menyatakan :

… إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُا … (فاطر : 28)

Artinya:        “Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara hamba hainba‑Nya, hanyalah orang yang berilmu pengetahuan”. QS. Fathir (35) : 28).

c. Meningkatkan Kualitas Pengabdian Kepada Allah

Manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk mengabdi kepada‑Nya. Demikian dinyatakan oleh Allah dalam firman­-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ. (الذاريات : 56)

Artinya:        “Dan tidaklah Au menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku”. (QS. al‑ Dzariyat (51) : 56).

Seluruh aktivitas hidup manusia hendaknya diwujudkan sebagai pelaksanaan pengabdian kepada Allah tersebut. Pengabdian manusia kepada Allah di sini adalah pengabdian dalam arti luas, yaitu seluruh aktivitas, yang memenuhi kriteria (1) diniatkan untuk menaati aturan Allah; (2) dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang diberikan alah, baik dalam bentuk kegiatan yang telah ditentukan tata caranya maupun dalam bentuk penggalian jenis kegiatan yang bermanfaat yang sejalan dengan nilai-nilai kebenaran yang ditunjukkan Allah; dan (3) dimaksudkan untuk memperoleh ridha Allah.

Nilai sebuah pengabdian manusia kepada aalah membuat manusia harus mengesampingkan kesenangan atau kepuasan pribadi, dengan catatan bahwa apa yang Allah ridhai bagi manusia adalah sesuatu yang terbaik bagi manusia. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu yang paling bermanfaat bagi manusia, dan Allah tidak menginginkan kesenangan-Nya sendiri dengan mengorbankan kepentingan manusia. Alah Maha Kaya dan Maha Kuasa sehingga Dia tidak menginginkan apapun dari pengabdian manusia kepada-Nya. Kewajiban yang Allah berikan pada manusia untuk mengabdi kepada-Nya adalah untuk kepentingan manusia sendiri, untuk kemaslahatan manusia.

Teknologi apabila dirancang dan dimanfaatkan secara benar dalam konteks tugas pengabdian manusia tersebut, maka teknologi diyakini akan mampu meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada Allah. Jam misalnya, adalah produk teknologi yang dimanfaatkan oleh umat Islam setiap hari untukl mengetahui waktu-waktu shalat sehingga umat Islam dapat menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya, begitu pula kompas dimanfaatkan untuk mengetahui arah kiblat sehingga tidak terjadi salah arah dalam shalat. Dalam hal produk teknologi pangan, dengan banyaknya produk makanan yang beredar di masyarakat, kita mampu mengetahui komponen‑komponen yang dipergunakan sebagai bahan, proses pembuatannya, sehingga kita dapat mengetahui apakah makanan yang kita konsumsi itu halal atau haram, begitu pula dengan produk‑produk teknologi lainnya.

Apabila berbagai kemajuan yang dicapai manusia diniatkan dan diarahkan untuk kepentingan peningkatan kualitas pengabdiannya kepada Allah, maka kemajuan yang dicapai itu tidak membuat manusia menjadi lalai akan tugas kehidupannya. Karena itu Allah memerintahkan dalam firman‑Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؟ (الأنعام : 162)

Artinya :     “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al‑An’am (6) : 162).

d. Memperoleh Kesenangan dan Kebahagiaan Hidup

Kemudahan‑kemudahan yang diperoleh manusia melalui pemanfaatan teknologi membuat manusia dapat memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup serta tetap dalam koridor kesenangan dan kebahagiaan yang halal, yang diridhai Allah. Allah tidak menghendaki manusia hidup susah, tetapi sebaliknya Allah menghendaki manusia hidup senang, hidup bahagia. Ketika Allah menempatkan Adam dan istrinya di bumi, Allah berfirman:

… وَلَكُمْ فِي اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ. (البقرة : 36)

Artinya: “ …. dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (Qs. Al-Baqarah (2): 36).

Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup yang disediakan oleh Allah itu, manusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di bumi, sebagaimana Allah nyatakan:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ. (البقرة : 29)

Artinya:        “Dia-lah Alah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah (2): 29).

Sekalipun kesenangan dan kebahagiaan hidup itu sejak awal penciptaan manusia telah diizinkan oleh Allah, tetapi Allah mengingatkan agar kesenangan itu jangan sampai membuat manusia lupa diri, yang mengakibatkan manusia tergelincir dalam kesesatan dan dosa. Hal itu dapat kita pahami dari peringatan Allah kepada Nabi Hud dan umatnya yang menjadi pelajaran bagi kita semua sebagaimana difirmankan oleh Allah:

قِيْلَ يَانُوْحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيْمٌ. (هود : 48)

Artinya:      “Difirmankan : “Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat‑umat (yang mukmin) dari orang‑orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat‑umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”. (QS. Hud (11) : 48).

Tidak sedikit orang yang kelihatan hidupnya taat kepada Allah, kelihatan alim, kekeluargaannya juga baik ketika hidup susah, tetapi begitu hidup senang dia lupa, terpedaya oleh kesenangannya. Fenomena yang monumental dalam kasus tersebut adalah kasus Qarun yang diabadikan dalam QS. 28 (al‑Qashash) : 76‑82. Qarun adalah simbol kekayaan dan kemegahan hidup sehingga kunci bangunannya saja susah dibawa oleh. orang yang perkasa. Tetapi karena kesombongan dan kelalaiannya itulah yang menyebabkan ia mendapat azab dari Allah sehingga ia dan kekayaannya itu hilang ditelan bumi. Sebagaimana firman Allah :

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ (81

وَأَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلاَ أَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ (82) القصص

Artinya:        (81)    Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

(82)    Dan jadilah orang-orang yang kemarin menciptakan kedudukan  Karun itu berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rizki bagi siapa yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya, kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai, benarlah tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah) (QS. Al-Qashash (28); 81-82).


e. Meningkatkan Kemampuan Memanfaatkan Kekayaan Alam

Seorang pekerja bangunan yang kuat dan masih muda, masih memiliki semangat kerja dan daya tahan tubuh tinggi menggali tanah dengan peralatan tradisional untuk  pondasi bangunan dalam satu hari ia hanya mampu menggali beberapa meter kubik, begitu pula pekerja tambang, dan lain‑lain. Ketika para pekerja tersebut menggunakan peralatan berat, ia mampu meningkatkan produktivitas kerja berlipat ganda. Bahkan banyak kekayaan alam yang tidak mungkin dideteksi keberadaannya dan dilakukan eksplorasi tanpa menggunakan teknologi canggih, seperti sumber minyak yang berada di kedalaman ribuan meter atau di dasar laut. Padahal semua itu disediakan oleh Allah untuk kesejahteraan hidup manusia.

Teknologi meningkatkan kemampuan manusia melakukan eksplorasi kekayaan alam tersebut secara optimal. Banyak negara, bangsa yang tidak memiliki kekayaan alam memadai tetapi karena memiliki kemampuan teknologi canggih hidup lebih sejahtera dibandingkan dengan negara, bangsa yang memiliki kekayaan alam melimpah tetapi teknologinya tertinggal. Jepang umpamanya, adalah sebuah negara kecil, yang miskin akan kekayaan alam, tetapi kemajuan teknologinya tinggi, ia lebih kaya dibandingkan dengan Indonesia yang kekayaannya melimpah tetapi tertinggal kemajuan teknologinya dibandingkan dengan Jepang. Masih banyak negara di dunia ini yang kaya seperti Jepang dan yang tertinggal seperti Indonesia.

Eksplorasi kekayaan alam diingatkan oleh Allah agar jangan sampai tak terkontrol sehingga berubah menjadi eksploitasi alam, yang mengakibatkan kerusakan alam, terganggunya keseimbangan lingkungan, karena justru akan mengakibatkan timbulnya malapetaka bagi manusia, seperti banjir,  pencemaran lingkungan, ,dan lain-lain. Dalam firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. (الروم : 41)

Artinya:  Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum (30):41).

Bumi ini Allah ciptakan dengan baik, artinya memiliki kesempurnaan dankeseimbangan sehingga dapat bertahan dan menyediakan berbagai kebutuhan hidup manusia. Karena itu Allah mengingatkan agar pemanfaatan kekayaan alam yang ada di bumi ini jangan sampai mengganggu keseimbangan alam tersebut. Hal itu Allah ingatkan dalam firman-Nya:

وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ. (الأعراف: 56)

Artinya:      “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang‑orang yang berbuat baik”. (QS. al‑A’raf (7) : 56).

f.   Menumbuhkan Rasa Syukur Kepada Allah.

Bagi orang beriman, sekecil apapun nikmat yang ia dapatkan dari rezeki halal yang diberikan Allah kepadanya akan melahirkan rasa syukur kepada‑Nya sebagai pemberi nikmat. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang mampu melipat‑gandakan nikmat itu kepadanya, maka rasa syukur kepada‑Nya pun juga akan berlipat ganda. Rasa syukur kepada Allah yang paling ringan adalah mengucapkan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin “, namun hakikat syukur yang sebenarnya adalah memanfaatkan nikmat itu secara, benar untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Karena itu diperlukan tekad, kesungguhan untuk mewujudkan rasa syukur dalam amal kehidupan secara riil. Allah mengingatkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ. (إبراهيم : 7)

Artinya:      “Dan (ingatlah) tatakala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat‑Ku), maka sesungguhnya azab‑Ku sangat pedih “. QS. Ibrahim (14) : 7).

Sekalipun demikian, memang banyak manusia, bahkan kebanyakan manusia tidak menyadari kalau nikmat itu adalah anugerah Allah sehingga ia tidak mensyukuri nikmat tersebut. Hal ini juga diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya:

… إِنَّ اللهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُوْنَ. (البقرة : 243)

Artinya:      “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (QS. Al-Baqarah (2): 243).

Teknologi membuat manusia semakin mudah meraih keinginannya, semakin ringan beban hidup yang harus ditanggung, semakin besar hasil yang bisa diperoleh. Kemudahan, keringanan, dan kenikmatan itu tidak mustahil membuat manusia semakin lupa kepada Allah, semakin jauh dari-Nya, apabila tidak disikapi secara cermat dan diiringi dengan iman yang teguh. Karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi oleh iman agar pemanfaatannya terarah untuk meningkatkan kualitas takwanya kepada Allah SWT.

sumber : http://mischanz.wordpress.com/2009/12/16/manfaat-teknologi-dari-sudut-pandang-islam/

Rabu, 07 September 2011

Belajar Tajwid

0 komentar

Kajian Tajwid Bersama Ust. Abu Ya’la Kurnaedi -hafizhahullah-

 

Audio Files VBR MP3 Ogg Vorbis
Bacaan Ghorib_2 septembe 12.7 MB 25.3 MB
Bacaan Ghorib_6 september 13.3 MB 25.7 MB
Bacaan Ghorib_9 september 14.1 MB 27.5 MB
Hukum2 Mad_001 13.0 MB 24.8 MB
Hukum2 Mad_002 12.8 MB 24.5 MB
Hukum idghom mutaqoribain_26 agustus 2008 14.8 MB 30.0 MB
Hukum idghom_12 agustus 2008 15.9 MB 30.4 MB
Hukum idghom_27 agustus 2008 12.8 MB 24.5 MB
Hukum lam sukun_5agustus 2008 15.0 MB 28.1 MB
Hukum lam_22 juli 2008 12.0 MB 22.6 MB
Hukum nun mati dan tanwin01 15.4 MB 30.0 MB
Hukum Nun sukun dan mim bertasdid 11.7 MB 22.8 MB
Hukum tafkhim dan tarkik_13 september 2008 15.5 MB 31.1 MB
Hukum ta’wudz 12.1 MB 23.7 MB
Keutamaan Membaca Al Qur’an 15.5 MB 30.0 MB
Al Lahnu 13.5 MB 25.8 MB
Hukum Basmalah 14.5 MB 29.9 MB
Kajian Tajwid_Hukum Iqlab 10.7 MB 20.4 MB
Sifat Huruf yang Tidak Memiliki Lawan Sifat 13.9 MB 26.9 MB
Sifat Huruf yang Memiliki Lawan Sifat 12.8 MB 24.5 MB
Tajwid 01_ust Kurnaedi 14.7 MB 29.2 MB
Idghom 12.6 MB 24.6 MB
Makhroj Lisan02 7.6 MB 15.9 MB
Ikhfa 14.6 MB 28.1 MB
Makhroj Lisan_edit 12.8 MB 26.7 MB

 

Belajar Bahasa Arab

0 komentar

Badar Online



Semoga link ini dapat memberikan manfaat untuk kita belajar dan mempelajari Bahasa Arab.

Baca Biografi

0 komentar

بسم الله الرحمن الرحيم

Para Ulama Ahlul Hadits

 

Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :
1. Khalifah ar-Rasyidin :
Abu Bakr Ash-Shiddiq
Umar bin Al-Khaththab
Utsman bin Affan
Ali bin Abi Thalib
 
2. Al-Abadillah :
Ibnu Umar
Ibnu Abbas
Ibnu Az-Zubair
Ibnu Amr
Ibnu Mas’ud
Aisyah binti Abubakar
Ummu Salamah
Zainab bint Jahsy
Anas bin Malik
Zaid bin Tsabit
Abu Hurairah
Jabir bin Abdillah
Abu Sa’id Al-Khudri
Mu’adz bin Jabal
Abu Dzarr al-Ghifari
Sa’ad bin Abi Waqqash
Abu Darda’

 
3. Para Tabi’in :
Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
Urwah bin Zubair wafat 99 H
Sa’id bin Jubair wafat 95 H
Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
Muhammad bin Sirin wafat 110 H
Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
Ikrimah wafat 105 H
Asy Sya’by wafat 104 H
Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
Aqamah wafat 62 H 

 
4. Para Tabi’ut tabi’in :
Malik bin Anas wafat 179 H
Al-Auza’i wafat 157 H
Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150 H

 
5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
Imam Syafi’i wafat 204 H

 
6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
Ahmad bin Hambal wafat 241 H
Yahya bin Ma’in wafat 233 H
Ali bin Al-Madini wafat 234 H
Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

 
7. Kemudian murid-muridnya seperti:
Al-Bukhari wafat 256 H
Muslim wafat 271 H
Ibnu Majah wafat 273 H
Abu Hatim wafat 277 H
Abu Zur’ah wafat 264 H
Abu Dawud : wafat 275 H
At-Tirmidzi wafat 279
An Nasa’i wafat 234 H

 
8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:
Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H
Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H
Ad-Daruquthni wafat 385 H
Ath-Thahawi wafat 321 H
Al-Ajurri wafat 360 H
Ibnu Hibban wafat 342 H
Ath Thabarany wafat 360 H
Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
Al-Lalika’i wafat 416 H
Al-Baihaqi wafat 458 H
Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H

 
9. Murid-Murid Mereka :
Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H
Ibnu Taimiyah wafat 728 H
Al-Mizzi wafat 742 H
Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)
Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
Ibnu Katsir wafat 774 H
Asy-Syathibi wafat 790 H
Ibnu Rajab wafat 795 H


10. Ulama Generasi Akhir :
Ash-Shan’ani wafat 1182 H
Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H
Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H
Al-Mubarakfuri wafat 1427 H
Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H
Ahmad Syakir wafat 1377 H
Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H
Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H
Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H
Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H
Hammad Al-Anshari wafat 1418 H
Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H
Muhammad Al-Jami wafat 1416 H
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H
Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat 1423 H
Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah
Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah
Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah

Sumber: Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan.



Para Ulama Salaf Lainnya

Para Ulama Salaf Ahlul Hadits selain yang disebutkan diatas yang masyur dizamannya antara lain :
Para Ulama sekarang yang berjalan diatas As-Sunnah yaitu:

 

 

Keluarga Rasulullahصلى ا لله عليه وسلم

Istri- istri Nabi زوجات النبي
Putra-Putri Nabi
Paman Nabi

 

 

Para Sahabat Rasulullahصلى ا لله عليه وسلم

 

 

Para Shahabiyah Rasulullahصلى ا لله عليه وسلم

 

 

Para Tabi’in dan Tabiut Tabi’in


Sedangkan para Tabi’ut Tabi’in dan murid muridnya serta generasi sesudahnya telah disebutkan pada biografi diatas antara lain seperti: Malik bin Anas, Imam Al Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Imam Syafee’i, Imam Hambali, Imam Muslim, Imam Bukhari, Imam Abu Dawud, Imam Zur’ah, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i. Serta generasi berikutnya.

 

Pernik-Pernik Para Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in

 

Muhadiddtsin

 

Penutup

Demikian perjalanan hidup para ‘Ulama Ahlul Hadits dibuat Semoga dapat menambah pengetahuan kita dalam mengenal generasi terbaik ummat ini. Mereka itulah 3 (tiga) Angkatan yang dinilai oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik ummat Islam.
Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم Bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)
Bagaimanakah dengan generasi kita saat ini ?
Sumber : http://ahlulhadits.wordpress.com
 

Mutiara Ilmu

Butir-Butir Hikmah